Tuesday, November 6, 2007

Rasul Thomas

Thomas sudah mendengar secara langsung dari murid-murid lainnya yang telah melihat Tuan mereka dalam keadaan hidup. Paling tidak itulah yang dikatakan mereka. "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya, dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya yang terluka oleh tombak Romawi itu, sekali-kali aku tidak percaya," kata Thomas.

Thomas tidak menginginkan mukjizat, tanda-tanda, dan mukjizat besar. Dia hanya ingin melihat bekas luka di tubuh Yesus -- simbol penderitaan-Nya. Meskipun Yesus sudah mengalahkan maut dan hidup dengan tubuh kemuliaan, Dia masih memiliki bekas luka itu -- sebagai pengingat akan harga yang telah dibayar-Nya.

Delapan hari kemudian, Yesus menampakkan diri lagi. Thomas pasti merasa bodoh sekali ketika dia berhadapan muka dengan sang Tuan. Dia menyadari betapa bodoh pernyataan yang telah diungkapkannya ketika murid-murid lain mengingatkan dia akan hal itu. Namun, Yesus tidak memarahi Thomas. Dengan memandang Thomas, Yesus mengulurkan tangan-Nya, mendorong dia untuk menjamah bekas luka dan menjadi percaya.

Bekas luka Yesus tetap ada setelah kebangkitan-Nya sebagai pengingat akan tubuh-Nya yang masih menderita. Karena meskipun Dia telah mengalahkan maut, tubuh-Nya di atas bumi ini masih menderita. Dan Dia dapat ikut merasakan bersama mereka dalam dunia ini yang juga menanggung bekas luka karena iman mereka kepada Kristus.

Thomas mengkhotbahkan Injil ke India dan Afrika Utara dan memertobatkan suku-suku yang menyembah patung matahari. Thomas menghentikan penyembahan berhala. Imam-imam dewa matahari menyeretnya ke hadapan raja. Thomas dilemparkan ke dalam perapian, tapi ia masih hidup. Ia dilempari tombak dan lembing hingga salah satu menusuknya dan ia mati di sana.

No comments: