Saya Lukas Bundiyanto, anak pertama dari lima bersaudara. Kehidupan saya yang hancur berantakan di Bali. Sebenarnya saya minggat ke Bali karena papa saya marah setelah mengetahui saya suka ke tempat pelacuran di Magelang. "Buangkanlah dari padamu segala durhaka yang kamu buat terhadap Aku dan perbaharuilah hatimu dan rohmu! Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel?"(Yehezkiel 18:31) | |
| Apakah Anda diberkati oleh artikel di atas? Anda ingin mengalaminya? Ikuti doa di bawah ini : | |
| Tuhan Yesus, aku menyadari bahwa aku seorang berdosa yang tidak bisa menyelamatkan diriku sendiri. Aku membutuhkan Engkau. Aku mengakui bahwa aku telah berdosa terhadap Engkau. Saat ini aku minta agar darah-Mu menghapuskan segala kesalahanku. Hari ini aku mengundang Engkau, Tuhan Yesus, mari masuk ke dalam hatiku. Aku menerima Engkau sebagai Tuhan dan Juru Selamat satu-satunya dalam hidupku. Aku percaya bahwa Engkau Yesus adalah Tuhan yang telah mati dan bangkit untuk menyelamatkan dan memulihkanku. Terima kasih Tuhan, di dalam nama Tuhan Yesus Kristus aku berdoa. Amin! |
BLOG AKHIR ZAMAN - Kebenaran Sejati, Kesaksian Nyata, Rahasia ilahi, Nubuat, Kehidupan Kekal.
Saturday, August 2, 2008
DILEPASKAN DARI DOSA HOMOSEKSUAL (GAY) - Kesaksian Lukas Bundiyanto
DILEPASKAN DARI JERAT DOSA HOMOSEKSUAL (LESBIAN) - Kesaksian Sonya Lawalata
Aku adalah wanita kelahiran Palu 1954. Ayahku seorang tentara yang dinasnya selalu berpindah-pindah tempat. Di usia aku yang ke-4, ayah dan ibuku bercerai karena tidak harmonisnya hubungan mereka. Karena kasih saying Oma terhadap cucu-cucunya, ia membawa dan mengasuhku beserta adik-adikku ke Sangir Talaud, Manado.
Pernikahan yang tidak bahagia
Ketika aku berumur 16 tahun, oma meninggal, sehinggga aku beserta adik-adik tinggal dengan saudara lainnya di kampung itu. Merasa beranjak dewasa, tahun 1979, aku mengambil keputusan untuk merantau ke Balikpapan seperti teman-teman sebayaku saat itu. Setelah beberapa waktu bekerja di sana aku pun mulai kenal dan dekat dengan seorang pria bernama Efendi. Walaupun kami berbeda keyakinan, namun hubungan kami semakin dekat sehingga kami berani mengambil keputusan untuk maju ke tahap yang lebih serius. Keputusan tersebut terlaksana dan aku pun mengikuti keyakinan suamiku. Tak pernah terbesit sedikitpun dibenakku bahwa rumah tangga ini harus berakhir. Hubunganku dengan suami tidak pernah harmonis seperti masa-masa pacaran. Tahun 1985, aku harus menghadapi kenyataan yang sangat pahit ketika suamiku menyatakan untuk bercerai, bahkan ia menikah dengan wanita lain.
Setahun kemudian, aku nekad pergi ke Jakarta dengan keinginan kuat untuk melupakan semua pengalaman pahit hidup ini dan memulai hidup yang baru. Namun apa yang terjadi tenyata jauh diluar dugaanku. Bukannya hidup yang lebih baik yang kudapatkan, sebaliknya, aku terpaksa mendekam dalam penjara wanita selama 7 bulan. Hukuman yang harus jalani setelah sebelumnya aku mabuk berat dan tanpa sadar telah membuat keributan di sebuah restoran. Sungguh, benar-benar jauh dari perkiraanku.
Mencintai sesama jenis
Dalam tahanan, ada seorang wanita yang memperhatikanku. Kedekatanku denganya membuatku merasa nyaman. Pelan tapi pasti, tanpa disadari ternyata kami mulai memiliki perasaan selayaknya rasa cinta terhadap lawan jenis. Hubungan ini terus berlanjut sampai masa tahananku selesai dan aku dibebaskan.
Bebas dari tahanan ternyata tidak juga menjadi kesempatan baik buatku untuk memulihkan hidupku dari jerat dosa. Saat itu aku tinggal dengan teman lamaku yang tergabung dalam sebuah tim band wanita. Di sinilah hidupku semakin tenggelam dalam kubangan lumpur dosa. Narkotika dan minuman keras selalu menjadi santapanku hampir setiap harinya, bahkan aku sering menyakiti diriku sendiri dengan mengiris-iris tangan dan perutku dengan pisau. Semakin dalam lukanya, aku sepertinya merasakan kenikmatan yang memuaskan hatiku. Tanpa disadari, pengalaman-pengalaman ini justru mendorongku untuk segera mengakhiri hidup.
Perasaan mencintai sesama jenis terus merasuki hidupku. Tahun 1993 aku berkenalan dengan Marsa dan kami menjalin hubungan layaknya pasangan suami istri. Lima tahun kemudian, aku meninggalkannya untuk merantau ke Batam. Akibat rantai dosa yang semakin kuat menjerat hidupku, aku pun mendapatkan pasangan baru, seorang wanita yang berusia 10 tahun lebih muda dariku.
Suatu hari aku dan beberapa teman pergi ke Pub "Nagoya". Pengaruh minuman keras membuatku lupa diri. Ternyata teman-temanku telah meninggalkanku sendirian dengan tagihan yang besar yang tidak bisa kubayar. Malam itu 3 orang bodyguard yang berbadan besar dan kekar, menghajarku tanpa ampun sampai babak-belur dan tidak sadarkan diri lagi di luar area pub tadi. Keesokan harinya, sekitar pukul 5 pagi, aku terbangun dengan rasa sakit yang menjalar disekujur tubuh. Bagian kepalaku retak dan terus mengalirkan darah. Tiba-tiba aku teringat dengan Sari, teman baikku sewaktu pertamaku berada di Batam. "Mungkin dia bisa membantuku.." pikirku. Saat itu aku teringat kepada Tuhan. Tuhan Yesus, kumohon tolonglah aku.." seruku dalam hati.
Aku adalah wanita sempurna di dalam Kristus
Akhirnya aku dirawat di RS Harapan Bunda. Setelah menjalani perawatan intensif selama 5 hari, kondisiku membaik dan aku diijinkan pulang. Setelah keluar dari rumah sakit, Sari mengajakku ke Jakarta untuk bertemu dengan ibu Linneke. Ia melayaniku dengan penuh ketulusan, tidak seperti perhatian yang ditunjukkan temen-temanku sebelumnya yang akhirnya menyeretku dalam jerat dosa lesbian. Melalui ibu Linneke, aku diperkenalkan kepada Kristus melalui seluruh perbuatannya yang mencerminkan kasih Kristus. Hubungan kami seperti keluarga yang penuh kasih dan damai sejahtera. Bahkan, 3 keponakannya juga turut ambil bagian membantuku dalam proses pemulihan iman dan kejiwaanku. Mereka tidak pernah lelah mengajakku pergi ke gereja. Hingga aku pun mulai berani berdoa, "Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau telah menyelamatkan hidupku. Terima kasih karena Engkau telah mengampuniku dari seluruh dosa-dosa yang pernah kubuat.."
Sejak saat itu, aku menjadi sangat yakin bahwa Tuhan Yesus telah mematahkan segala ikatan dosa yang akan membawaku kepada kebinasaan kekal. Keberanian dan pemulihan iman yang terjadi dalam hidupku membuatku semakin taat dan konsisten untuk berdoa, membaca firman Tuhan dan aku terus mengikuti persekutuan-persekutuan ibadah yang benar-benar menjamah hatiku dan menguatkan keyakinanku di dalam Kristus sehingga akhirknya aku berserah total kepada Tuhan serta menyatakan kesediaan untuk dibaptis. Maret 2003, ketika aku dibaptis, aku merasa ada suatu roh yang keluar dari tubuhku. Saat itu aku menangis karena aku sangat yakin bahwa aku sudah dibebaskan dari kutuk dosa lesbianku dan kasih Kristus yang luar biasa kini ada di dalam hidupku. "Aku telah menjadi wanita sempurna di dalam Yesus Kristus." Ucapku.
Sekarang aku adalah seorang hamba Tuhan yang melayani sebagai pendoa bagi orang-orang yang terbaring lemah di rumah sakit. Tuhan selalu menyertai setiap pelayananku. Mukjizat-mukjizatNya yang luar biasa terus terjadi melalui pelayanan ini. Bonus yang mulia dari Tuhan ialah melalui kehidupanku sekarang ini, Marsa akhirnya bertobat dan terlepas dari jerat dosa lesbian. Ia menjadi wanita yang sempurna di dalam Tuhan Yesus Kristus, bahkan kini ia juga menjadi seorang pelayanan Tuhan.
DILEPASKAN DARI NARKOBA, BESTIALITAS (Hubungan seksual antara manusia dan hewan), DAN ONANI - Kesaksian Steven Imanuel Bawole
Ayah Steven adalah seorang yang keras dan kasar kepada anaknya. Apapun yang Steven lakukan, kalau ia berbuat salah, ayahnya tidak akan segan-segan untuk memukulnya. Hal itu menimbulkan dendam yang sangat dalam di hati Steven. Steven benar-benar benci kepada ayahnya. Hati Steven pedih dan penuh dengan luka akibat perbuatan ayahnya. Bagi Steven, narkoba adalah jawaban atas segala kebencian dan kepedihan terhadap ayahnya. Karena keinginan hatinya untuk menyenangkan dirinya begitu besar, Steven pun mulai terikat dengan narkoba. Sang ibu, Henny, sempat menemukan obat-obatan miliknya. Henny tidak pernah mengetahui bentuk narkoba itu seperti apa. Barang haram itu pun hanya disangka vitamin oleh Henny.
Narkoba yang dipikirnya bisa memberikan kesenangan dalam hidupnya, malah membuat Steven menuju ke ambang kehancuran. Saat memakai narkoba Steven memang merasa hatinya tenang dan dirinya adalah seorang yang lebih hebat daripada yang lain. Sewaktu masih bersekolah di STM, Steven adalah siswa yang suka tawuran. Dia adalah kepala geng bagi anak-anak di sekolahnya.
Pada suatu ketika, anjing piaraan Steven hamil. Steven ketakutan setengah mati, dia takut kalau anak anjing itu adalah hasil hubungannya dengan anjing piaraannya. Dalam kepanikannya, Steven menendang dan memukul anjingnya sampai mati. Hidup Steven telah hancur gara-gara narkoba. Bagi sang ibu, hanya doa yang bisa dilakukan untuk kesembuhan anak tercintanya. Henny senantiasa berdoa dan bergumul khusus untuk Steven.
Dalam sebuah ibadah, Steven menemani Henny, sang ibu yang tengah berbicara di tengah orang banyak. Saat itu Henny menjadi pembicara sedangkan Steven menjadi pemain gitarnya. Steven tidak menyangka bahwa ibunya akan mengucapkan kata-kata yang sangat menusuk hatinya. Dengan jelas Steven mengingat setiap perkataan ibunya, "Saya berdoa untuk anak saya. Saya bersyukur, doa saya dijawab Tuhan. Saat ini anak saya, Steven, sudah bisa melayani Tuhan."
"Tuhan terima kasih, ada orang tua yang berdoa meskipun sudah saya kibulin, namanya tercemar karena saya, dan mami bilang anak saya seorang pecandu. Saat itu mami buka semua aib saya. Tapi mami tidak malu. Dia tetap menghargai saya sebagai anaknya," ucap Steven mengungkapkan kekagumannya akan sosok Henny, ibunya. Steven akhirnya terlepas dari narkoba dan dari semua kebiasaan buruk yang telah membelenggu hidupnya. Bahkan hubungannya dengan sang ayah pun telah dipulihkan. Ayah Steven mulai dipulihkan saat ia menyaksikan sendiri bagaimana Steven masuk di dalam pelayanan.
"Saya berterima kasih sama Tuhan. Karena kalau Steven tidak berubah, mungkin kita tidak bisa mengubah hidup orang lain. Saya juga terjun di pelayanan sebenarnya karena diajak Steven," kisah Efraim, adik Steven. "Tidak ada orang yang mengatakan sedemikian luar biasa kepada saya selain Yesus ketika Dia mengatakan, ‘Steven, Aku cinta kamu.' Itu sudah cukup bagi saya. Saya tahu bawa Dia mencintai saya," ujar Steven penuh haru sambil menutup kesaksiannya. (Kisah ini sudah ditayangkan 17 Desember 2007 dalam acara Solusi di SCTV). Sumber Kesaksian :Steven Imanuel Bawole | |
| Apakah Anda diberkati oleh artikel di atas? Anda ingin mengalaminya? Ikuti doa di bawah ini : | |
| Tuhan Yesus, aku menyadari bahwa aku seorang berdosa yang tidak bisa menyelamatkan diriku sendiri. Aku membutuhkan Engkau. Aku mengakui bahwa aku telah berdosa terhadap Engkau. Saat ini aku minta agar darah-Mu menghapuskan segala kesalahanku. Hari ini aku mengundang Engkau, Tuhan Yesus, mari masuk ke dalam hatiku. Aku menerima Engkau sebagai Tuhan dan Juru Selamat satu-satunya dalam hidupku. Aku percaya bahwa Engkau Yesus adalah Tuhan yang telah mati dan bangkit untuk menyelamatkan dan memulihkanku. Terima kasih Tuhan, di dalam nama Tuhan Yesus Kristus aku berdoa. Amin! | |
| |
Pergi ke gereja.
Mendengar suara Tuhan.
Jatuh bangun lagi.
Kemudian saya mulai pelayanan lagi. Saya melayani di Sekolah Minggu. Tahun 2004 saya mulai pelayanan sekolah minggu ke daerah-daerah di timur Indonesia seperti di Kupang - NTT. Tahun 2005 saya pelayanan di Waingapu dan Waikabubak. Di sana kami mengadakan KKR anak. Juni 2006, saya juga pelayanan ke Papua.
Ketidaktahuan sang ibu membuat Steven semakin berani. Perilakunya semakin tidak terkontrol. Steven mulai berkhayal dengan fantasi-fantasi liarnya akibat mengkonsumsi narkoba. Fantasi porno pun kerap kali menguasai pikiran Steven. Dan nafsu itu dilampiaskannya dengan cara onani ataupun berhubungan seks dengan anjing piaraannya.
Jiwanya telah rusak. Akal sehatnya telah hilang akibat narkoba. Anjing piaraanya pun menjadi tempat pelampiasan nafsu birahinya selama 4 bulan. Tak seorang pun yang mengetahui perbuatannya yang sangat kotor dan hina itu.
Dalam keheningan malam, di saat Steven sedang tertidur pulas, peristiwa yang sangat menakutkan terjadi padanya. Steven bermimpi aneh. Ia sedang memasuki sebuah ruangan. Di dalam ruangan itu Steven melihat ibu dan adiknya sedang menangisi seseorang yang terbaring di tempat tidur. Ketika Steven mendekati tempat tidur itu, ia melihat sosok dirinya sendiri yang terbaring tak berdaya akibat over dosis. Mimpi aneh itu menimbulkan pertanyaan yang besar bagi Steven. Ketakutan yang sangat menguasai diri Steven. Dalam ketakutan itu, Steven pun teringat untuk berteriak, "Tuhan Yesus, tolong saya!!" Kemudian Steven pun terbangun. Steven mulai berpikir kembali tentang hidupnya. Steven benar-benar ingin lepas dari segala keterikatannya tapi ia tidak memiliki kekuatan untuk lepas dari hal itu. Sejak saat itu Steven betekad untuk mulai berhenti total dari segala kebiasaan buruk yang telah mengikatnya selama ini.
Saat mencoba berhenti dari narkoba, Steven harus merasakan seluruh badannya yang sakit, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Steven merasakan tulang-tulangnya yang seperti ditarik-tarik, luar biasa sakitnya. Dengan tekad yang kuat, Steven berjuang untuk lepas dari kebiasaannya itu. Hampir tiga bulan lamanya Steven mengambil puasa secara rutin. Setiap jam 3 pagi Steven terbangun tapi sakit yang dirasakannya tetap terasa. Dengan tekad yang kuat, Steven tetap bertahan untuk menahan rasa sakit yang dialaminya itu. Steven pun hanya bisa pasrah. Kalaupun memang dia harus mati, itu tidak menjadi masalah lagi. Bagi Steven, saat itu adalah saat dimana ia harus menuai apa yang telah ditaburnya selama ini.
Steven baru menyadari kalau selama ini Henny selalu berdoa bagi dirinya. Steven tidak pernah tahu selama empat tahun ini, Henny tidak pernah berhenti mendoakan Steven. Hari itu menjadi hari yang merubah sejarah hidup Steven.
Saat ini Steven tergabung dalam organisasi anak muda yang memerangi kecanduan narkoba dengan mengadakan penyuluhan-penyuluhan di sekolah-sekolah. 